INDONESIA EX-MUSLIM FORUM

Telling the truth about Muhammad and Islam

SEJARAH SINGKAT MUHAMMAD

Posted by Exmuslim pada Maret 10, 2009

Dulu kami selalu bertanya, mengapa ada muslim yang cinta damai, yang toleran dengan pemeluk agama lain, dan dipihak lain terdapat muslim yang radikal, yang memusuhi non muslim dan memerangi para kafir (Israel, AS, dan agamanya), padahal kedua pihak itu menggunakan dasar yang sama yaitu Quran. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, marilah kita menelaah Quran berdasar sha’ne nozool (konteks) dalam penurunan ayat2 tersebut, agar kita dapat mengerti apa sebenarnya perintah yang dimaksudkan dalam Quran.

.

Sebelum Muhammad mengenal monotheisme, terdapat beberapa orang yang telah menentang budaya berhala yang ada di Mekah, dan berdakwah tentang tauhid atau monotheisme. Salah satunya adalah, Zayd bin Amr. Ia adalah seorang penyembah berhala kemudian murtad menjadi seorang Hanif (Agama Ibrahim). Zayd dengan keras menentang polytheisme, karenanya ia kemudian diasingkan oleh orang2 Mekah. Selama masa pengasingan ini, ia sering bertemu Muhammad didekat Gua Hira. Zayd belajar agama hingga ke Syria. Dikemudian hari Muhammad bercerita tentang Zaid ini; “Aku telah melihat dia di surga menggambar baju2nya.” Perkataan ini membuktikan bahwa Muhammad begitu terkesan terhadap ajaran monotheisme yang diajarkan oleh Zaid tersebut. (Ibn Sa’d, vol.i, p.185)

.

Tidak banyak hal yang dapat kita ketahui mengenai apa agama awal Muhammad, namun dari beberapa hadis dan biografinya, kita memperoleh informasi bahwa kemungkinan pada mulanya Muhammad adalah seorang kafir penyembah berhala. Ibnu Ishaq menulis bahwa Muhammad biasa bertapa seorang diri di gua Hira setiap tahun selama sebulan untuk melakukan ‘tahnanuth‘ yang merupakan ibadah berhala. Menurut masyarakat Quraish, ‘tahnanuth’ berarti pengabdian agamawi (Ibn Ishaq, Sirat, p.105).

.

‘Kami diberitahu bahwa Rasul Allah pernah menyinggung hal tentang al-‘Uzza dan katanya, “Aku telah mempersembahkan domba putih kepada al-‘Uzza, ketika aku masih menjadi pengikut agama masyarakatku.” (Hisham ibn al-Kalbi, Kitab al-Asnam, p.17)

.

Bukhari juga mencatat bahwa Muhammad muda memakan daging yang dipersembahkan pada berhala Mekah, hal yang dilarang dalam kepercayaan monotheisme seperti Yahudi dan Hanif. (Sahih Bukhari, 67:407, 58:169). Hal ini menunjukkan pada mulanya Muhammad adalah penyembah berhala (kafir), namun karena bimbingan dari orang2 seperti Waraqah, Khadijah, dan Zaid bin Amr, akhirnya Muhammad menjadi seorang monotheisme.

.

13 tahun Muhammad berdakwah mengenai monotheisme di Mekah, menyampaikan berita bahwa dirinya adalah seorang rasul, namun kurang dari 80 orang yang menerimanya dan percaya padanya (bandingkan dengan Lia Eden, dalam 5 tahun pengikutnya lebih dari 50 orang). Dalam dakwahnya, ia selalu mengatakan bahwa barangsiapa yang tidak taat pada Allah dan dirinya adalah kafir. Hal itu membuat jengkel masyarakat Mekah, karena dengan begitu Muhammad mengejek agama dan dewa2 mereka. Akibatnya masyarakat Mekah tidak mau berhubungan dengan dia dan pengikutnya. Dalam sejarah yang ditulis para Muslim sendiri, tidak ada bukti penindasan terhadap Muhammad. Kaum2 tua Quraish yang muak dengan hinaan2 Muhammad melaporkan hal itu kepada paman Muhammad, Abu Talib dan berkata,

.

Keponakanmu ini telah mengucapkan kata2 hinaan terhadap dewa2 dan agama kami, dan telah mengatakan kami bodoh, dan mengatakan semua kakek moyang kami sesat. Sekarang, kau yang berada di pihak kami silakan balas dia; (karena kau pun mengalami hinaan yang sama), atau jangan lindungi dia agar kami yang membalasnya.” (Sir William Muir, Life of Muhammad, Vol. 2, chap. 5,. p. 162.)

Ini bukan ucapan orang2 yang suka menindas. Ini adalah sebuah permintaan dan peringatan agar Muhammad berhenti menghina dewa2 mereka. Bandingkan dengan tindakan kaum Muslim modern ketika nabi mereka digambarkan di beberapa kartun. Muslim2 ini mengamuk dan di tempat2 seperti Nigeria dan Turki, mereka membunuh hampir 100 orang yang tidak bersalah atas pembuatan kartun2 itu. Tapi masyarakat Quraish bertoleransi atas hinaan2 terhadap dewa2 mereka selama tiga belas tahun.

Ibnu Ishaq berkata, “Seperti yang disampaikan kepadaku, bahwa Abu Jahal bin Hisyam berjumpa dengan Rasulullah, kemudian ia berkata kepada beliau, ‘Hai Muhammad, engkau harus berhenti mencela tuhan2 kami! Jika tidak, maka kami akan mencela tuhan yang engkau sembah.’ (Ibnu Hisyam, Sirah NA, Vol 1, p 318)

Berdasarkan peristiwa tersebut, maka Allah menurunkan ayat berikut:

‘Dan janganlah kalian memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan ‘. (QS 6:108).

Siapakah yang pertama kali mencela dan melecehkan agama orang lain?

Karena ditinggal Muhammad berdakwah, dan sibuk mengurus sepuluh anak tanpa bantuan dari suami, akhirnya Khadijah (istri pertama Muhammad) tidak sempat mengurus bisnisnya, hartanyapun habis guna mencukupi kebutuhan Muhammad dan para pengikutnya, sehingga setelah dia meninggal dunia, keluarganya menjadi miskin. Setelah Khadijah meninggal, pendukung lain Muhammad yakni pamannya Abu Talib juga meninggal. Karena kehilangan dua pendukung setianya dan tidak dipedulikan masyarakat Mekah, maka Muhammad mengambil keputusan untuk hijrah ke Medina. Apalagi Muhammad telah melakukan perjanjian dengan tujuh puluh lima (73 pria dan 2 wanita) Ansar (penduduk kota Medina) yang disebut sebagai sumpah kedua Aqaba.

Masyarakat Arab Medina lebih dapat menerima Muhammad, bukan hanya karena ajarannya, tapi karena mereka bersaing dengan masyarakat Yahudi. Masyarakat Medina menganggap Muhammad adalah sang penyelamat yang akan membalaskan kecemburuan mereka terhadap masyarakat Yahudi. Di daerah Medina banyak terdapat masyarakat Yahudi. Sesuai dengan agama mereka, masyarakat Yahudi merasa mereka sebagai “bangsa pilihan.” Mereka pun lebih kaya dan terpelajar dibandingkan masyarakat Arab, sehingga ini menimbulkan kecemburuan sosial dalam diri masyarakat Arab Medina. Sebagian besar tanah Medina dimiliki orang2 Yahudi (Ibn Ishaq, Sirat Rasul Allah; 197).

Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui. (QS 16:41).

Orang2 Mekah yang hijrah ke Medina tidak punya mata pencarian. Jadi bagaimana Muhammad memenuhi janjinya untuk memberikan “tempat yang bagus” pada mereka yang meninggalkan rumah mereka karena perintahnya? Mereka menjadi miskin dan tergantung pada belas kasihan orang2 Medina untuk bertahan hidup. Beberapa dari mereka bekerja sebagai kuli untuk jangka waktu singkat dan setelah itu tidak punya pekerjaan lagi. Akibat kemiskinan dan kelaparan, para pengikut Muhammad mulai berbisik-bisik tidak puas. Beberapa malah meninggalkannya. Muhammad nyaris kehilangan wibawanya. Reaksi Muhammad adalah mengeluarkan ayat ancaman baru:

Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong (mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling (murtad), tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorang pun di antara mereka pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong, (QS 4:89)

Dalam ayat ini, Muhammad mengatakan pada pengikutnya untuk membunuh Muslim2 lain yang meninggalkannya dan berniat kembali ke Mekah. (Jalal al-Din al-Suyuti menulis: “sekelompok orang dari Mekah masuk Islam dan beriman; sebagai akibatnya, para sahabat di Medinah menulis surat kepada mereka dan meminta mereka untuk melakukan hijrah sesuai perintah Muhammad; karena jika mereka tidak mau, maka mereka dianggap sebagai musuh Muslim. Mereka setuju dan meninggalkan Mekah tapi kemudian segera dilarang orang2 kafir (Quraish) yang adalah saudara mereka sendiri; mereka dipaksa murtad, tapi tidak mau.” [Jalal al-Din al-Suyuti "al-Durr al-Manthoor Fi al- Tafsir al-Ma-athoor," vol.2, p178;]

Meskipun telah mengeluarkan ayat2 panik penuh ancaman bagi mereka yang berniat meninggalkannya, Muhammad tetap saja harus menemukan jalan untuk menafkahi pengikut2nya. Apa yang dilakukan Muhammad untuk menghidupi pengikutnya? Mari kita lihat hadis dibawah:

Hadis Sahih Bukhari, Vol. IV, bab 88:
Dikisahkan oleh Ibn ‘Umar bahwa sang Nabi berkata,”
Mata pencaharianku ada di bawah bayangan tombakku, (1) dan dia yang tidak menaati perintahku akan dihinakan dengan membayar Jizya.”
Catatan: (1) “Di bawah bayangan tombakku” berarti “dari jarahan perang”.

Hadis Sahih Muslim 4:1058
Rasulullah mengatakan, “Saya memiliki LIMA hal yang TIDAK DIBERIKAN KEPADA SIAPAPUN SEBELUM SAYA. Saya diberikan kemenangan lewat KETAKUTAN (yang diinspirasi oleh saya) …: dan BARANG JARAHAN dibuat halal bagi saya, dan tidak dihalalkan bagi siapa saja sebelum saya …”)

(Ibn Ishaq Sirat Rasul Allah; 326)
Allah mengatakan, “Tidak ada nabi sebelum Muhammad yang mengambil barang jarahan dari musuhnya, maupun mengambil sandera untuk uang tebusan.” Muhammad mengatakan, “Saya diberikan kejayaan lewat TEROR. Bumi diberikan bagi saya untuk dibersihkan… Jarahan dibuat sah bagi saya … Kelima hak istimewa ini tidak diberikan kepada nabi lain sebelum saya.”

Itulah Muhammad, sang Rasul Allah. Jika selama ini anda bertanya apakah pekerjaan Muhammad, inilah jawabannya. Muhammad menafkahi dirinya dengan cara merampok, uang tebusan dari sandera dan memungut pajak jizya. Benar kata pepatah, kemiskinan dekat dengan kekhufuran. Patut diperhatikan bahwa Hadis Bukhari bab 88 diatas telah dihilangkan dalam versi Internet Sahih Bukhari. Hadis yang sukar dipercaya ini hanya dapat ditemukan di terjemahan cetak asli “The Translation of Sahi Bukhari” oleh Dr. Muhammad Muhsin Khan. [Ref: The Translation of the Meanings of Sahih Al-Bukhari, Arabic-English, Vol.IV (page 104) by Dr. Muhammad Muhsin Khan, Islamic University—Al-Medina Al-Munauwara].

Ya, Muhammad memerintahkan pengikutnya untuk merampok kafilah2 pedagang Mekah. Dia meyakinkan mereka bahwa masyarakat Mekah telah mengusir mereka ke luar dari rumah mereka, karena itu sudah jadi hak mereka untuk merampok orang2 Mekah tersebut;

Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. (QS 22:39-40)

Di Medina, pendatang Muslim dari Mekah hanya beberapa orang saja. Agar lebih berhasil dalam usaha penyerangannya, Muhammad butuh bantuan dari Muslim baru asal Medina, yang disebutnya sebagai ‘Ansar’ (pembantu). Akan tetapi, orang2 Medina tidak memeluk Islam untuk merampok kafilah dan berperang. Percaya pada Allah adalah satu hal, sedangkan menyerang, menjarah, dan membunuh orang merupakan hal yang lain sama sekali. Sebelum Muhammad datang, orang2 Arab tidak mengenal agama perang. Bahkan saat jaman modern sekalipun, terdapat para Muslim yang percaya pada Allah tapi tidak mau berperang dan membunuh bagi agamanya. Untuk membujuk pengikut seperti ini, Muhammad membuat Allah mengeluarkan perintah ini:

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS 2:216)

Tak lama kemudian, usaha sang Nabi mulai berbuah. Terdorong keserakahan ingin mendapat harta jarahan dan janji2 hadiah surgawi, maka Muslim Medina bergabung melakukan perampokan dan penjarahan. Setelah tentara Muhammad bertambah banyak dan ambisinya semakin membengkak, dia pun mendongkrak posisinya dengan tidak hanya memerintahkan pengikutnya berperang baginya “di jalan Allah” tapi juga harus membayar biaya perang sekalian.

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS 2:195)

Perhatikan bagaimana Muhammad menghubungkan “perbuatan baik” dengan menjarah, meneror, dan membunuh. Dengan memutarbalikkan moralitas seperti inilah maka Muslim dapat mengesampingkan nurani mereka dan menganut etika terbalik dalam memperlakukan non-Muslim, yang harus terus dimanfaatkan demi keuntungan Muslim. Apapun keadaan yang menguntungkan Muslim dianggap baik.

(Ibn Ishaq, Sirat Rasul Allah; 304)
Saya memotong kepala Abu Jahl dan membawanya kepada Rasulullah. “O Nabi Allah, inilah kepala dari orang yang memusuhi Allah”. Muhammad mengatakan, “TERPUJILAH ALLAH.”

Muhammad membuat pengikutnya percaya bahwa melakukan perang baginya dan melakukan tindakan terorisme dalam Islam merupakan perbuatan yang menyenangkan Allah. Muhammad menyebut “PERAMPOKAN dan PENJARAHAN”, dengan istilah “PEPERANGAN”. Hal ini dilakukan agar dirinya nampak sebagai KORBAN, pihak yang teraniaya, atau pihak yang dikhianati dari orang2 yang dirampokinya, dengan demikian Muhammad memiliki alasan pembenaran untuk melakukan perampokan tersebut. Bahkan Muhammad menjanjikan kemakmuran bagi mereka yang mau bergabung dalam bisnis perampokannya.

ALLAH MENJANJIKAN KEPADA KAMU HARTA RAMPASAN YANG BANYAK YANG DAPAT KAMU AMBIL, maka disegerakan-Nya harta rampasan ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan) mu (agar kamu mensyukuri-Nya) dan agar hal itu menjadi bukti bagi orang-orang mukmin dan agar Dia menunjuki kamu kepada JALAN YANG LURUS. (QS 48:20)

Dan sekarang keberuntungan Muhammad telah berubah. Dengan kekayaan dari hasil berpuluh2 kali perampokan, ia berhasil membentuk ribuan pasukan. Kini dia bukan lagi seorang pendakwah lemah yang diabaikan seperti sewaktu di Mekah, tapi kini dia adalah pemimpin sebuah “NEGARA”, yang memerintah dengan kekuasaan absolut atas para pengikutnya. Dengan perubahan nasib ini, seluruh pesan Muhammad juga berubah. Ia yang dulu begitu alim di Mekah, menjadi begitu lalim di Medinah.

Di bawah ini adalah perbandingan antara beberapa ayat2 awal yang dia tulis di Mekah ketika masih lemah dan beberapa yang ditulis di Medinah setelah menjadi berkuasa.

Ayat Awal di Mekah dan Medinah Ayat di Medinah setelah berkuasa
2:256 Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam) 9:123 Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu
29:46 Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang lalim di antara mereka, dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri 9:29 Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.
109:6 Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku 3:85 Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.
5:82 Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persabahatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani 3:28 Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi teman atau penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).
10:99 Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? 2:193 Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah
50:45 Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan kamu sekali-kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka 9:14 Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman
73:10 Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik. 8:12 Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka
2:62 Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran
terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka
bersedih hati.
9:30 Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putra Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putra Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling
43:88,89 Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak beriman”. Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari mereka dan katakanlah: “Salam (selamat tinggal).” Kelak mereka akan mengetahui (nasib mereka yang buruk) 47:4 Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka.


Ayat diatas hanyalah sebagian dari ayat2 yang bertentangan dalam Quran. Dikotomi (pemikiran bercabang) ini dijelaskan oleh beberapa ulama Muslim.

Dr. M. Khan, penerjemah Sahih Bukhari dan Quran ke dalam bahasa Inggris menulis:
Jadi pada awalnya ‘pertempuran’ dilarang, kemudian diijinkan, dan setelah itu dibuat ‘wajib’. (Pengenalan untuk Terjemahan Inggris dari Sahih Bukhari, halaman xxiv).

Dr. Sobhy as-Saleh, seorang akademik jaman ini, tidak melihat dalam QS 2:256 dan QS 9:73 sebagai kasus penggantian tapi sebagai kasus penundaan atau penangguhan perintah untuk melawan para kafir. Untuk mendukung pandangannya dia mengutip Imam Suyuti, Penulis Itqan Fi’Ulum al-Quran yang menulis:

Perintah untuk melawan para kafir DITUNDA HINGGA PARA MUSLIM MENJADI KUAT, tapi dikala mereka lemah mereka diperintahkan untuk bertahan dan bersabar. [ Sobhy as_Saleh, Mabaheth Fi 'Ulum al- Qur'an, Dar al-'Ilm Lel-Malayeen, Beirut , 1983, p. 269.]

Dan Nahas menulis:

Para ulama berbeda pendapat mengenai QS 2:256 (Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)) Ada yang bilang: “Itu telah digantikan (dibatalkan) karena sang nabi memaksa orang Arab untuk memeluk Islam dan melawan mereka dan tidak menerima alternatif lain kecuali menyerah pada Islam. Ayat tersebut telah digantikan oleh QS 9:73 “Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka.” Muhammad meminta ijin Allah untuk melawan mereka dan dikabulkan. Ulama lain berkata QS 2:256 tidak digantikan, tapi mendapat penerapan khusus. Ayat ini muncul karena mengenai “Ahlul Kitab” (Yahudi dan kristen); mereka tidak dapat dipaksa untuk memeluk islam jika mereka membayar pajak Jizia (Pajak untuk nonmuslim dibawah undang2 muslim). Hanya pemuja berhala saja yang dipaksa untuk memeluk agama Islam dan pada merekalah QS 9:73 diterapkan. Ini pendapat dari Ibnu Abbas yang merupakan pendapat terbaik karena dari kesahihan otoritasnya [ al-Nahas, An-Nasikh wal-Mansukh, p.80. See also Ibn Hazm al-Andalusi, An-nasikh wal-Mansukh, Dar al-Kotob al-'Elmeyah, birute, 1986, p.42.]

Dikotomi diatas menjelaskan, mengapa orang2 seperti Cak Nur dan Abu Bakar Baasir, dapat berbeda dalam menafsirkan Quran. Muslim menjadi orang yang baik karena mereka masih mengedepankan hati nurani mereka sebagai manusia daripada mengikuti ajaran2 picik agamanya. Sedangkan Islam Radikal menyatakan Islam apa adanya, Islam yang sesungguhnya, tanpa sensor hati nurani! Karena mereka tau, bahwa ayat2 damai dalam Quran telah DIBATALKAN dengan ayat baru yang lebih tegas!

>>Menafsirkan Quran dengan benar (klik disini)<<

Obsesi Muhammad untuk menundukkan orang2 agar mau mengakuinya luar biasa besarnya, hingga dia menjanjikan para pemerkosa dan perampok sebuah tempat di surga jika mereka menerimanya. Sementara bagi mereka yang tidak menerimanya dan mengakui kerasulannya akan dia bakar di dunia dan neraka andai meskipun mereka hidup soleh di dunia ini.

Nabi berkata, “Jibril berkata padaku, ‘Siapapun di antara para pengikutmu yang mati tanpa menyembah tuhan lain selain Allah, akan masuk surga (atau tidak akan masuk neraka).’ Nabi bertanya, ‘Bahkan jika dia telah melakukan pemerkosaan atau pencurian’? Jawabnya, ‘Ya, bahkan merekapun.’” (Hadis Bukhari 54:445 )

Ini bahkan dipastikan oleh Quran:

(QS 4:48) “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.”

Dan bagi mereka yang mau menerima Muhammad dan Allahnya, akan diberikan tempat disurga:

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan, mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka; dan Tuhan mereka memelihara mereka dari azab neraka. (Dikatakan kepada mereka): “Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan”, mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli. (QS 52:17-20)

Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya…(QS 56:35-37)

Bagaimana bisa orang yang berpikiran normal menerima omong kosong ini?

Perampok dan pemerkosa dijanjikan surga yang penuh kenikmatan seks dan birahi asal menerima Muhammad dan Allahnya!

Tidakkah kita melihat keganjilan disini? Lihatlah apa yang dikatakan seorang wanita Yahudi kepada Muhammad setelah ia ketahuan meletakkan racun di makanan rasulullah tersebut!

“Kami ingin tahu jika kau ini PEMBOHONG dan kalau kau memang pembohong, kami akan menyingkirkanmu, dan jika kau memang adalah seorang nabi, maka racun itu tidak akan mempan pada dirimu.” (Hadis Bukhari 53:394)

Dan ucapan wanita Yahudi itupun terbukti. Racun itu membunuh Muhammad secara perlahan. Selama 3 tahun sang nabi bertarung dengan racun tersebut.

Rasul Allah hidup sampai tiga tahun setelah itu sampai racun itu menyebabkan rasa sakit sehingga ia wafat. Selama sakitnya dia biasa berkata, “Aku tidak pernah berhenti mengamati akibat dari daging (beracun) yang kumakan di Khaibar dan aku menderita beberapa kali (dari akibat racun itu) tapi sekarang kurasa tiba saatnya batang nadiku terputus.” (Ibn Sa’d, “Kitab al-Tabaqat al-Kabir” hal 252)

Sang nabi pun wafat karena kutukan yang ia buat sendiri:

Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, Niscaya benar-benar kami pegang dia pada tangan kanannya, Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu. (QS 69:44-47)

Bagaimana mungkin bahwa orang2 tidak berhenti sejenak untuk berpikir tentang semua ini?

Kenapa kita tidak bertanya pada diri sendiri pertanyaan sederhana ini, seperti:

KENAPA ALLAH SANGAT INGIN DIRINYA DIKETAHUI DAN DIPUJA?

Kenapa dia tidak menampakkan dirinya pada setiap orang seperti dia menampakkan dirinya pada si nabi? Kenapa dia bermain petak umpet dan kemudian menghukum dan membunuh mereka yang gagal menemukannya, dengan meminjam tangan Muhammad dan pengikutnya.

Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman. (QS 9:14)

Dimanakah kuasa Allah yang maha kejam tersebut? Bukankah adalah hal yang mudah bagi Allah untuk menyiksa dan membunuh orang2 kafir dengan mengirimkan bencana kepada mereka. Mengapa harus Muhammad dan pengikutnyalah yang melakukannya?

Ini adalah pertanyaan sederhana tapi penting, setiap muslim harus bertanya pada dirinya sendiri.

Kita bukanlah kambing! Kita adalah manusia yang diberi otak dan hati nurani!

Tergantung apakah akan kita gunakan atau tidak!

Artikel selanjutnya, klik disini: Muhammadisme

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 47 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: